<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rohis ar-rahman</title>
	<atom:link href="http://rohisku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rohisku.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Feb 2009 09:00:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='rohisku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/73df0309276dc1b8193e9d86ff6ca587?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rohis ar-rahman</title>
		<link>http://rohisku.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rohisku.wordpress.com/osd.xml" title="Rohis ar-rahman" />
		<item>
		<title></title>
		<link>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/19/</link>
		<comments>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/19/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 09:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rohisku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohisku.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[INIKAH TABIAT KITA ?

( Renungan SetELAH Gempa dan Tsunami )
 
Layak direnungkan 10 ujaran yang Ditinggalkan Saudara Kita YANG Telah “Di Pahat“ Indah Pada Majalah Diding Di Masjid Lampulo Banda Aceh Persis 100 Meter JarakNya Dari Tepi Krueng Aceh Atau 1 km Dari Bibir Pantai Kawasan Setempat.
Barang Kali Yang Menempel Itupun Telah Duluan Syahid Pada Ahad [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=19&subd=rohisku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="title"><a title="Tautan Tetap ke INIKAH TABIAT KITA ?" rel="bookmark" href="http://iskandarmt.wordpress.com/2008/08/29/inikah-tabiat-kita/">INIKAH TABIAT KITA ?</a></h2>
<div class="snap_preview">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">( Renungan SetELAH Gempa dan Tsunami )</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Layak direnungkan 10 ujaran yang Ditinggalkan Saudara Kita YANG Telah “Di Pahat“ Indah Pada Majalah Diding Di Masjid Lampulo Banda Aceh Persis 100 Meter JarakNya Dari Tepi Krueng Aceh Atau 1 km Dari Bibir Pantai Kawasan Setempat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Barang Kali Yang Menempel Itupun Telah Duluan Syahid Pada Ahad 26 Desember 2004 yL KETIKA BENCANA MAHA DAHSYAT TSUNAMI TERJADI.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Penulis Itu Mungkin Mengajak Sebagian Besar Kita Yang Selama Ini Belum Pernah Adil Menatap Jalan Kehidupan. Bisa-bisa Ini Telah Menjadi Tabiat Mayoritas Kita. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Tabiat Yang Jelek, Lazim Mengakar Menjadi Rutinitas Yang Buruk Seperti Ujar Orang Bijak: <em>“Pertama Kita Membentuk Kebiasaan, Lalu Kebiasaan Yang Membentuk Kita.”</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Isi Pesan Ini Cemeti Bagi Kita. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:8pt;text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Pesan Pertama. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Jika Ketempat Shalat Atau Pengajian, Kita Berlambat lambat Tapi Kalau Ketempat Hiburan Atau Olah Raga, kita berupaya seCepatnya apalagi bila itu Urusan Pemenuhan Hasrat Syahwat, Birahi dan Setan maka Kita rancang Secara Cermat dan Matang Agar Tak Ketinggalan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Terik dan Hujan Sekalipun sudah diperhitungkan, Mantel dan payung Kita Selipkan, Namun Tak Begitu Kencang Kita berLari, Jika Itu Urusan Ukhrawi, Shalat dan Pengajian. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">pesan Kedua</span></strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kalau Ketempat Shalat Kita Hanya Memenuhi ShafT Belakang, Tapi Kalau Ke anjang Hiburan atau Olah Raga, Kita Memilih Barisan Depan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Jika Kita Pantau Isi Barisan Dalam masjid pada Hari Jumat MisalNya, Lama Sekali Penuhnya Shaf-shaf Depan Yang Suci Itu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Manusia2 Yang Sibuk pada Berlambat lambat Ketempat Azan. Jika Mau Mungkin Cuma Jumat Atau Hanya Pada Dua Hari Raya. Lalu Melangkah Agak Tergesa-gesa Memilih Barisan Anak-anak Agak di Belakang, Ke dinding Putih untuk sandaran dan tidur. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">malah Ada Yang Masuk Masjid Saat Aqad Nikah saja atau Manakala Jenajah Nya Dishalatkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Berbeda Jauh Dengan Rebutan Akan Bangku Dalam Ajang Hiburan Misalnya. Agar Tampak Betis dan Dada Artis, Kita Terengah-engah Berdesakan Masuk Lalu Memilih duduk <span> </span>Dideretan Muka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Padahal seMesti nya Kita Bersaing Memenuhi Shaf Pertama masjid, Setiap Azan, Setiap Hari dan Saban Jumat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">pesan Ketiga. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kalau Untuk Jadwal Akhirat, Kita Menggeser-geserkan Atau Kalau Bisa Dibatalkan Tapi Untuk Jadwal Duniawi, Kita Prioritaskan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;" lang="FI">Untuk Planning Yang Inti Nya Semata-mata Isi Perut, Atau Menebalkan Kantong, Kita Cepat-cepat Menyetujui. </span><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">Namun Jika Itu Rencana Yang Cenderung Ke Keagamaan Yang Menguras Kantong, Kita Pertimbangkan. Nanti Saja Kita Kirim Jawaban, itupun Kalau Kita Sepakati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Jika Ada Pertemuan, Rapat Proyek, Audensi Atau Kunjungan Dari Seorang Bapak Yang Berpangkat Atau Ibu Pejabat maka Kita Cancel Semua jadwal Kita yang Ada. Kita Ubah Semua Jadwal Balai Pengajian Kita Demi Kesenangan Bapak Atau Ibu Itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Tak Perduli apakah Itu Pengajian Rutin, Majelis Ta’lim, Halqah, Wirid, Yasinan, Ngaji Anak-anak, Atau Shalat berJamaah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">seMestinya Kita Nomor Satukan Jadwal Yang Telah Jelas Nuansa Ukhrawi. Lalu Kita Urutkan Seterusnya Agenda Yang Kelihatannya Bernuansa Duniawi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:8pt;text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">pesan Keempat</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kalau Untuk Duniawi Seperti Nonton TV, Kita Bergadang dan Berlama-lama, Tapi Untuk Shalat Kita Sering Telat dan Secepat Kilat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kita Rela Minum Kopi Kental Buat Persiapan Nanti Malam Sebab Liga Demi Liga Sedang Bertarung Di Sana. Musim Kompetisi Sedang Di Gelar, Yang Diamati Dan Di Presenterkan Oleh Pembawa Acara Yang Aduhai. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kita Hafal Nama Klub, Hingga Nama pemain Di Bangku Cadangan Juga Jam tayang Yang Tak Boleh Tertunda termasuk Siaran Ulangnya. Tontonan Itu dilakukan Bareng Atau Sendirian, Dua, tiga Atau empat Jam Itu Masih terasa Singkat!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Lapangan Hijau Sering Masuk Ke Kamar Kita Padahal Di Barat Bola Kaki Sudah Menjadi Agama Nomor Dua. Gereja Telah Lama DiGantikan Oleh Stadion. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Hari Ini Gejala Itu Sedang Merasuki Benak Segelintir Pemuda Kita. Persetan Dengan Agama, Lebih Kurang Demikian Katanya. Televisi Memang Bisa Memudaratkan, Jika Begini Liberalismenya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Jika Sayup-sayup Di Meunasah Atau masjid Ada Jawaban Jamaah “ Amin”, Maka Disini, Di Depan Kotak Ajaib Inipun, Ada Koor “Gool”!!!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">MestiNya kebiasaan jelek Ini Tak Terulang Lagi Dalam Hari dan Malam Kita, Lebih-lebih Jika Penonton Itu Ketiduran Saat Azan ATAU Mata Melotot Saat Siaran. Jika Sudah Parah Begini Kita bisa katakan Ini Manusia Berwajah Setan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Jikapun Hobi sekali Nonton Hingga Larut, Mari Kita Imbangi dengan Tahajud dan Witir, Atau Shubuh Di Awal Waktu Juga. Ada Munajat Di Ujung Malam. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Shalat Harus Tenang dan Bersahaja. Belum Sah Jika tak Ada Dalam Rukunnya Thuma’ninah. Jangan <em>Lagee den-den rhah ek</em> Bagai Capung Cebok.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">pesan Kelima</span></strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kalau Untuk bersantai, rekreasi, Kita Senang Memakai Fasilitas Mewah, Tapi Untuk Shalat, Sebagian Kita Menilai: Wah Itu Terlalu Mahal (Ini Juga Tren Kita, Orang Kaya, Di Kota Atau Desa).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Padahal Telah Disarankan, Dibacakan, Bahkan Diulang-ulang Akan Fadhilah Berjalan Kaki Ke Masjid, Kejamaah Atau Ketempat Baik. Tapi Kita Jawab Dengan berbagai Alasan seperti Hari Ini Kecapekan Atau Keletihan. Namun kenyataannya Nanti Dan Esok Sama Saja, Disibukkan. Padahal Azan masuk Di Gendang Telinga kita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Jika Tenda korban tsunami, meunasah atau masjid berJarak agak jauh Lalu DiSarankan Membawa sepeda motor Atau Mobil, Kita Kuatir kendaraan Akan Tergores, Takut Kotor atau Kecurian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kita Pelit dan MeRASA Terlalu Mahal Harta Kita Untuk Tuhan, Namun sebaliknya Untuk Makan-makan, Berbelanja, Enjoy, Atau Jalan-jalan, Kita dengan Senang hati Keluarkan mobil Dari Garasi, dan Ikut Antrian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">pesan Keenam</span></strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kalau 20 ribu rupiah Untuk Sedekah, Menurut kita itu Sudah Besar. Tapi kalau Untuk Belanjaan, Itu Masih Kecil.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Sebab Ada Sebagian Kita Selalu Merasa Masih Sedikit Untuk Belanjaan. Walaupun Sudah Tiga Keranjang belanjaan Yang Dihitung kasir Di mall Atau pasar Swalayan, Kendatipun Yang Di Borong Itu Hanya “ Umpan Perut” Berupa: Bon-bon, Permen Karet, Kerupuk Atau Mie Instan. Sampah Yang Ditipu Oleh Iklan Dan Sering Menumpuk-numpuk Kantong Kemubaziran !.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><em><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">‘Mubazir Adalah Saudara Setan, Setan Kufur Pada Allah“</span></em><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"> Firman Tuhan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Mestinya Kita Tak Tergoda Dengan GencarNya Iklan dan Tak Larut Bersama Orang Keluar Masuk Swalayan. Sebab Sering Itu Hanya Tipuan Yang Bukan Kebutuhan dan Bukan Tuntutan. Gengsi Biasanya Akan Menghancurkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Biasanya ”Sampah” itu akan mengIsi Lemari Rumah Atau Rak, atau Hanya akan Jadi Barang Pajangan, seharusnya Pajangan berupa Buku-buku dan Kitab-kitab. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Sisa Belanjaan Kita Buang Kebelakang. Membuang Makanan Atau Barang Bekas Sama Dengan Membuang Puluhan Ribuan Atau Uang Jutaan rupiah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">sampah Itu Musnah Seiring Dengan MusnahNya Kehidupan Padahal MestiNya Kita Sadar Yang Kekal Itu adalah Yang Kita Sedekahkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kita seharusnya Terus Merasa Masih Kurang Untuk Celengan Amal Meskipun Hanya Sanggup Bersedekah Hingga 20 Ribu Rupiahan saja.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">pesan Ketujuh</span></strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kalau Dari Koran Atau Media Massa Kita Yakin 100%, Tapi Kalau Dari Alquran dan Nabi, Kita Ragu-ragu Dulu. Ini Penyakit Orang Munafiq, Kafir, Musyrik, Yang Tak Pantas Menghinggapi qalbu Sang Mukmin. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Satu Lagi Perangai Jahat Adalah Meragukan Kebenaran, Biasa Lantaran Sok Pandai, diDebatkan dengan analisa Logika Baru Percaya. Memang Kadangkala Logikapun Menjadi Sembahan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Memang Hadist pun Ada Yang Palsu. Namun Kenapa Atas Berita Media Kita Yakin Penuh?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Ingatlah bahwa Kita Wajib Yakini Ayat-ayat Tuhan Dengan Iman dan Nurani. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">KITA Tak Perlu Serius Sekali Jika Itu Isu, Gosip, atau Fitnah Dari Media apalagi ikut ikutan menyebarkan beritanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">pesan Kedelapan</span></strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Kalau doa yang dipimpin ustadz Panjang, Kita Cepat Bosan, tapi Kalau Ngobrol Panjang Kita Tak Bosan-bosan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Padahal Tuhan Senang Sang Hamba berdoa Panjang kepadanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">pesan Kesembilan</span></strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">Kalau Baca Koran, Sebagian Kita Berhalaman-halaman, Tapi Kalau Baca Alqur’an, Cukup Satu Halaman. </span><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;" lang="FI">Inipun Kalau Sempat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;" lang="FI"><span style="font-size:small;">apakah tidak takut bila tinggal diBacakan saat Menjelang Ajal Di Kepala</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:8pt;text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;">Kesepuluh</span></strong><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"> Yaitu Kalau Giliran Teken Jadup/ bANTUAN LANGSUNG TUNAI Atau Beras/ Minyak / Sarden / Mie, Kita Berdesak-desakan Ke Pekarangan Mesjid.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;">Tapi Kalau Menyahuti Seruan Azan, Sebahagian Kita Bermalas-malasan Masuk Mesjid, Mungkin Kesana Sepekan Sekali, Atau Setahun Dua Kali. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:small;"><em><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;" lang="FI">Disarikan dari tulisan </span></em><span style="font-family:Tahoma;" lang="FI"><span> </span>Muhammad Yakub Yahya</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;" lang="FI"><span style="font-size:small;">( Ketua Remaja Masjid RAYA BAITURRAHMAN dan Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh ( Serambi 18 Desember 2005 ).</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="text-transform:uppercase;font-family:Tahoma;" lang="FI"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
</div>
<p>~ oleh iskandar mt di/pada Agustus 29, 2008<a href="http://iskandarmt.wordpress.com/2008/08/29/inikah-tabiat-kita/">artikel ini dari sini</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohisku.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohisku.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohisku.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohisku.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohisku.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohisku.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohisku.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohisku.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohisku.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohisku.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=19&subd=rohisku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b6a75c0eaaa268c2d026a5f3758db8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rohisku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/17/</link>
		<comments>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/17/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 08:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rohisku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohisku.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!

Hidup ini memang penuh kelucuan. Masalahnya adalah kitalah sumber kelucuan itu. Melihat tingkah kita, sepertinya para malaikat akan gemas sekaligus geram, seperti seorang ibu muda sedang melihat anaknya yang lucu dan imut, tapi sedang bertingkah nakal. Semut, cicak, nyamuk, pohon, rerumputan, angin dan semua makluk-Nya juga akan terheran-heran melihat kelakuan kita.

Mungkin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=17&subd=rohisku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3 class="post-title entry-title"><a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html">Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!</a></h3>
<div class="post-body entry-content">
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Hidup ini memang penuh kelucuan. Masalahnya adalah kitalah sumber kelucuan itu. Melihat tingkah kita, sepertinya para malaikat akan gemas sekaligus geram, seperti seorang ibu muda sedang melihat anaknya yang lucu dan imut, tapi sedang bertingkah nakal. Semut, cicak, nyamuk, pohon, rerumputan, angin dan semua makluk-Nya juga akan terheran-heran melihat kelakuan kita.</span></p>
<p><span style="font-size:130%;"></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;">Mungkin karena suasana di dalam masjid yang begitu tenang dan hening, angin pun bertiup sepoi-sepoi mengelus-elus pipi kita dengan lembutnya—apalagi di dalam masjid terdapat kipas angin atau <em>ِAir Conditioner</em> (AC)—pepohonan juga melambai-lambai serasa membelai rambut indah kita dengan kasih sayangnya, ditambah lagi kita sebelumnya telah melakukan aktivitas sekolah atau kerja; maka suara khatib persis seperti suara ibu kita yang mendongeng sebelum kita tidur di pembaringan, ketika kita masih kecil.</span></p>
<p></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Bahkan, karena tidur ketika khutbah disampaikan sudah menjadi hal yang <em>ghalib</em> (umum), muncullah sebuah anekdot, “Kalau ada orang menderita insomnia—susah tidur—ajak saja untuk shalat Jum‘at. Niscaya, saat mendengarkan khutbah, dia akan tertidur pulas.” Entah sikap apa yang harus diambil, apakah kita harus bangga atau tidak dengan anekdot ini. Mari kita tanyakan pada diri sendiri.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Kenapa hal itu terjadi? Tidak malukah kita kepada diri sendiri, terlebih kepada Allah? Padahal, kita adalah makhluk tertinggi, yang diciptakan dengan sangat sempurna oleh-Nya.</span></p>
<p align="right">
<span style="line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;">لَقَدْ خَلَقْنَا ٱْلإِنْسَـانَ ِفيْ أَحْسَـنِ تَقْوِيْمٍ<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.</em> <strong>(QS at-Tîn [95] : 4)</strong></span></span></p>
<p align="right">
<span style="line-height:150%;font-size:240%;"><span style="font-family:'Traditional Arabic';">وَلَقَدْ كَرَّمْناَ بَنِيْ ءَادَمَ وَحَمَلْنٰـهُمْ فىِ ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنٰـهُمْ مِّنَ ٱلطَّـيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰـهُمْ عَلىٰ كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقْناَ تَفْضِيْلاً<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. </em><strong>(QS al-Isrâ’ [17] : 70)</strong><br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Marilah kita tengok lagi siapa diri kita. Apakah kita memang begitu hebat? Sudah ditemukan bahwa semua makhluk hidup memiliki alphabet DNA <em>(DeoxyriboNucleic Acid)</em> yang sama, yaitu A <em>(Adenine)</em>, C <em>(Cytosine)</em>, G <em>(Guanine)</em> dan T <em>(Thymine)</em>. Dalam struktur helix ganda DNA, A berpasangan dengan T, sedangkan C berdampingan dengan G. Dalam tubuh manusia diperkirakan terdapat 100 trilyun sel. Dalam setiap inti sel terdapat 23 pasang kromosom yang disusun oleh 3 milyar huruf alphabet tadi. Jika DNA dalam setiap tubuh manusia direntangkan, maka panjangnya akan melebihi 600 kali jarak bumi dan matahari.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Bagaimana dengan otak manusia? Otak manusia terdiri lebih dari 100 milyar sel yang terdapat pada bagian luar struktur utama otak yang disebut <em>cortex</em>. Setiap sel merupakan satu sistem proses informasi yang kecil. Sebagai satu kesatuan, sel-sel saraf ini terdiri atas berbagai elemen dari bagian berpikir otak. Dengan adanya interaksi fisik sel-sel saraf inilah organ-organ dari otak memberikan kehidupan pada otak. Satu sel saraf pada umumnya mampu menerima sampai 15.000 sinyal secara fisik dari sel saraf lainnya dalam waktu bersamaan yang begitu cepat, yaitu sekitar 150 nano second atau 0,000000150 detik.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Sir Charles Sherington, seorang ahli saraf otak dari Inggris berkata, “Otak manusia adalah sesuatu yang tampak memesona dengan jutaan kumparan yang berkelip membentuk pola tertentu, suatu pola yang penuh arti dan tak kunjung diam, yang terdiri dari suatu perubahan yang harmoni dari pola-pola yang lebih kecil. Ini mirip seperti galaksi Bimasakti memasuki sebuah kosmik, bagaikan sedang berdansa.”<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Ternyata, orang yang paling cerdas pun tidak sampai menggunakan 5% dari kemampuan otak sesungguhnya. Sampai saat ini masih diteliti terus tentang bagaimana memfungsikan otak secara optimal. Entah seperti apa kemampuan seseorang jika bisa memfungsikan 100% kemampuan otaknya. Ibarat kaset rekaman, otak kita mampu menerima informasi yang diinputkan selama 24 jam sehari, satu hal baru setiap detik, selama 30 juta tahun. Saat itulah otak baru terisi penuh. Sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânallâh.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Cobalah kita bayangkan sejenak, betapa dahsyat dan sempurnanya manusia ciptaan Allah itu, yaitu diri kita sendiri. Semua ini diciptakan bukan secara sia-sia atau untuk disia-siakan. Manusia adalah makhluk kepercayaan-Nya, wakil Allah, khalifah di muka bumi yang memiliki fungsi rahmatan lil ‘âlamîn.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Dengan kesempurnaan seperti itu, kok bisa-bisanya kita tidur ketika khutbah disampaikan? Tidakkah kita tahu bahwa mendengarkan khutbah itu hukumnya wajib? Mungkin karena kita merasa sudah pintar sehingga kita berargumen, “Ah, paling-paling isi khutbahnya itu-itu saja&#8230; Tidak uptodate, membosankan! Sudah bertahun-tahun saya shalat Jum‘at, saya sudah hapal semua materi khutbah.” Atau barangkali kita akan mengatakan, “Khatibnya nggak enak, monoton! Saya jadi malas mendengarkan khutbah. Mendingan tidur, kan nanti harus kerja lagi.”<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Memang, penonton “lebih berkuasa” dibandingkan pemain. Pendengar lebih bebas berkomentar daripada khatib. Apakah kita merasa diri kita lebih hebat dari sang khatib? Kalau kita diminta untuk menjadi khatib, apakah kita mampu dan bisa lebih baik daripada khatib yang kita remehkan? Jika pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kepada kita, lalu apa jawab kita? Mungkin kita akan bersilat lidah dengan menjawab, “Wah, saya kan bukan lulusan pesantren. Saya juga bukan alumni UIN/IAIN. Jelas saya nggak bisa. Tapi, kan&#8230; Seharusnya kalau sudah mau jadi khatib, ya resiko. Kalau memang nggak enak khutbahnya, jangan jadi khatib dech&#8230; Seperti saya saja, duduk manis.”<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Marilah kita ingat lagi pesan agama, yang tersebut dalam firman Allah di dalam Al-Qur’an :</span></p>
<p align="right">
<span style="font-family:'Traditional Arabic';"><span style="line-height:150%;font-size:240%;">يَۤاأَيُّهَا ٱلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا قُوْا أَنْفُسَـكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ ناَرًا وَقُوْدُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ</span><br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>Hai orang-orang beriman, peliharalah (jagalah) dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.</em> <strong>(QS at-Ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>rîm [66] : 6)</strong><br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Kaidah (peraturan umum) tentang urutan pelaksanaan suatu perintah agama adalah :</span></p>
<p align="right">
<span style="font-family:'Traditional Arabic';"><span style="line-height:150%;font-size:240%;">إِبْدَأُوْا بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ</span><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:130%;"><em><span style="font-family:times new roman;">Mulailah dengan apa yang Allah telah memulainya.<br />
</span></em></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Dari ayat di atas, jelaslah bahwa urutan pertama perintah untuk menjaga dari api neraka ditujukan pada diri sendiri. Janganlah kita mengurusi orang lain, tetapi mengabaikan urusan sendiri. Kalau pun khatibnya tidak seperti yang kita harapkan, kita harus tetap mendengarkan khutbah dengan baik. Bukankah itu suatu kewajiban? Selain itu, di dalam khutbah juga ada peringatan kepada kita untuk senantiasa berbuat baik. Terdapat juga ilmu yang bisa kita ambil manfaatnya. Tidak ada suatu kebaikan pun yang sia-sia. Disamping itu, ada anjuran bahkan perintah agar kita mengutamakan apa yang dinasihatkan, bukan pada orangnya.</span></p>
<p align="right">
<span style="font-family:'Traditional Arabic';"><span style="line-height:150%;font-size:240%;">اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ</span><br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>Perhatikan apa yang diucapkan, dan jangan melihat siapa yang bicara.</em> </span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Barangkali memang kita belum tahu bahwa tidak diperkenankan untuk tidur ketika khutbah disampaikan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Muhammad saw. bersabda :</span></p>
<p align="right">
<span style="font-family:'Traditional Arabic';"><span style="line-height:150%;font-size:240%;">إِذَا قُلْتَ لِصَاحِِبكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ</span><br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>Apabila engkau berkata kepada temanmu di hari Jum‘at, “Diamlah,” padahal imam sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkau telah berbuat sia-sia (laghâ). </em><strong>(HR Bukhari)</strong><br />
</span></span></p>
<p align="right"><span style="font-family:'Traditional Arabic';"><span style="line-height:150%;font-size:240%;">وَمَنْ قَالَ صَهْ فَقَدْ تَكَلَّـمَ وَمَنْ تَكَلَّـمَ فَلاَ جُمُعَةَ لَهُ</span><br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>Siapa mengatakan, “Diamlah,” berarti ia telah berbicara, dan siapa yang berbicara maka sesungguhnya tidak ada shalat Jum‘at baginya.</em> <strong>(HR Ahmad) </strong><br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Nah, kalau sekadar berkata “Diamlah” saja tidak diperbolehkan, apalagi tidur, yang berarti tidak mendengarkan khutbah. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa karena shalat zhuhur itu empat raka’at, sedangkan shalat Jum‘at itu dua raka’at, maka dua khutbah adalah ganti dari dua raka’at shalat Zhuhur.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Bila terkadang kita tidur ketika khutbah, kadang-kadang juga kita terlalu canggih dan kreatif, sehingga memutar tasbih untuk berdzikir sambil mendengarkan khutbah. Bisa saja karena kita meyakini diri kita adalah orang alim, otak kita begitu hebat, lebih hebat daripada mainframe bahkan super komputer, maka kita berdalih bisa melaksanakan dzikir sambil mendengarkan khutbah sekaligus, seperti konsep <em>multi tasking</em> dan <em>multi threading</em> di komputer. Kita menyamakannya dengan mendengarkan radio sambil membaca buku.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Entah dalil naqli dan aqli apa yang kita pelajari; sedangkan berkata “Diamlah” saja tidak diperbolehkan, kok kita malah mengucapkan banyak kata. Khutbah itu untuk didengarkan sepenuh hati. Kalau kita mau berdzikir, hendaklah itu dilakukan sebelum khutbah atau sesudah shalat Jum‘at. Bahkan, kegiatan seperti itu bisa membuat hati kita terjangkit penyakit riya’, supaya dianggap ahli dzkikir, yang lisannya tak henti-henti menyebut asma Allah. Na‘ûdzubillâh.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian adalah perintah junjungan kita, Nabi Muhammad saw.</span></p>
<p align="right">
<span style="line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;">مَنْ تَوَضَّـأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْـتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ، وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>Siapa berwudhu dengan sempurna dan pergi shalat Jum‘at, lalu mendengar khutbah dan diam (memperhatikan), maka akan diampuni dosa yang terjadi pada hari itu sampai pada Jum‘at lagi, ditambah tiga hari. Dan siapa yang bermain-main dengan kerikil (batu), berarti sia-sia Jum‘atnya.</em> <strong>(HR Muslim dari Abu Hurairah)</strong><br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Dalam kitab <em>“Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”</em>, Imam Nawawi menjelaskan bahwa salah satu hal yang bisa menghentikan dzikir seseorang adalah mendengarkan khutbah Jum‘at.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Seringkali kita juga berlagak seperti orang super sibuk, sehingga datang shalat Jum‘at ketika khatib sudah di atas mimbar, bahkan ketika khutbah kedua akan berakhir. Kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat <em>(‘udzur syar‘i)</em>, janganlah kita melakukan itu. Bukankah Allah menganugerahkan kepada kita kemampuan yang sangat luar biasa? Tidakkah kita bisa mengatur waktu kita? <em>Time Management</em> istilah orang modern.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Kalau dipanggil oleh atasan atau orang yang kedudukannya lebih tinggi saja, kita bersegera menemuinya; lalu kenapa ketika Allah Yang Menciptakan kita, Yang Maha Memberi Rejeki pada kita mengundang, kita malah bermalas-malas memenuhinya? Di mana logikanya? Marilah kita ingat bahwa yang memanggil kita bukanlah ta’mir masjid, tapi Allah Yang Maha Tinggi <em>(Al-‘Aliyy)</em> dan Maha Memerintah <em>(Al-Wâliy)</em>. Begitukah balasan kita terhadap Beliau yang telah menganugerahkan semuanya? Itukah bentuk rasa syukur dan bukti ucapan kita bahwa kita adalah hamba Allah?<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Dalam kitab <em>“Al-Mawâ‘izh al-‘Ushfûriyyah”</em> dijelaskan bahwa Allah menganugerahkan hari Jum‘at untuk umat Nabi Muhammad saw., ridha Allah bersama hari itu dan surga sebagai hadiah bagi umat Islam. Tidakkah kita berbahagia mendapatkan kado terindah dari Yang Maha Pemberi <em>(Al-Wahhâb)</em>?<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Mungkin kita akan berkilah, “Walaupun saya selalu datang terlambat, tapi kan saya mengisi kotak amal paling banyak.” Baiklah jika itu alasan kita. Pertanyannya adalah, “Bagaimana mungkin sesuatu yang hukumnya sunnah bisa mengalahkan yang wajib? Qa‘idah Ushul Fiqh bagian mana yang menjelaskan hal itu?”<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Mungkin karena ilmu kita yang kurang sehingga kita berbuat seperti itu. Melaksanakan ibadah membutuhkan ilmu. Oleh karena itu marilah kita menambah ilmu, karena amal tanpa ilmu itu tertolak <em>(wa kullu man bighayri ‘ilmin ya‘malu, a‘mâluhû mardûdatun lâ tuqbalu)</em>. Benarkah? Logikanya bagaimana? Misalnya kita tidak mengerti teknik reparasi televisi. Kemudian ada TV teman kita rusak. Karena niat baik ingin membantu teman, maka kita reparasi sendiri televisi itu. Apa akibatnya? Bukankah tetap rusak? Bahkan bisa lebih parah kan?<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Bisa jadi kita masih berorasi, “Bukankah yang penting niatnya? Jangan bandingkan dengan reparasi TV, dong. Ini urusan ibadah. Tidakkah sudah jelas haditsnya bahwa amal itu tergantung niatnya <em>(innamal a‘mâlu bin-niyyât)</em>? Perbandingan yang sungguh tidak masuk akal!”<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Jika kita memang ahli berdebat, baiklah. Jawabannya yaitu, “Yang tidak masuk akal adalah bagaimana mungkin kita sudah berniat terhadap sesuatu, tapi kita tidak mempersiapkan diri dan bermalas-malas ketika mengerjakannya. Kita seperti orang yang ingin kaya tanpa kerja keras, ingin pandai tapi tidak mau belajar dengan sungguh-sungguh, ingin masuk surga tanpa harus ibadah secara istiqamah, atau ingin kenyang tanpa makan.”<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Apa gelar yang disandangkan untuk orang seperti ini? Sebelumnya penulis haturkan maaf bila penjelasan berikut ini kurang berkenan di hati. Dalam kitab <em>“Ta‘lîm al-Muta‘allim”</em>, ada sebuah syair untuk orang ini : </span></p>
<p align="right">
<span style="font-family:'Traditional Arabic';"><span style="line-height:150%;font-size:240%;">وَالْجُنُوْنُ فُنُوْنٌ</span><br />
</span></p>
<p><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"><em>Orang stres memang bermacam-macam.<br />
</em></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Marilah kita ingat lagi ajaran agama Islam tentang bagaimana kita harus mendatangi shalat Jum‘at dan mendengarkan khutbah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,</span></p>
<p align="right">
<span style="line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;">مَنِ اغْتَسَـلَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ غُسْـلَ اْلجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الْخَامِسَـةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَـةً، فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَامُ حَضَرَتِ الْملاَئِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>“Setiap orang yang mandi pada hari Jum‘at seperti mandi besar (janâbah) dan kemudian pergi mengerjakan shalat (pergi di awal waktu), ia seolah-olah telah berkurban seekor unta (badanah); siapa yang pergi pada waktu kedua seolah-olah telah berkurban seekor sapi (baqarah); siapa yang pergi pada waktu ketiga seolah-olah telah berkurban seekor biri-biri (kabsyan aqran); siapa yang pergi pada waktu keempat seolah-olah telah berkurban seekor ayam (dajâjah); siapa yang pergi pada waktu kelima seolah-olah telah berkurbah seekor telur (baydhah). Dan ketika imam berdiri (untuk menyampaikan khutbah), para malaikat berkumpul untuk mendengarkan khutbahnya.”</em> <strong>(HR Bukhari)</strong><br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Kapan mandi sunnah pada hari Jum‘at dilakukan? Para ulama menjelaskan bahwa yang lebih utama adalah ketika akan berangkat shalat Jum‘at. Dengan demikian badan kita akan harum dan segar ketika melaksanakannya. Namun, sebenarnya mandi sunnah pada hari Jum‘at bisa dilakukan semenjak fajar (Subuh). Jadi, para pelajar, mahasiswa, guru atau pegawai bisa melakukannya sebelum berangkat ke sekolah atau tempat kerja. Caranya seperti mandi jinabat, yaitu meratakan air ke seluruh tubuh—dari ujung rambut sampai ujung kaki—tapi dengan niat untuk kesunnahan hari Jum‘at karena Allah.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Pada hari Jum‘at, kita diajarkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi saw.</span></p>
<p align="right">
<span style="line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;">إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيْهِ قُبِضَ وَفِيْهِ النَّفْخَةُ وَفِيْهِ الصَّعِقَةُ فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟ فَقَالَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى اْلأَرْضِ أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَاءِ<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>Sesungguhnya yang paling utama dari harimu adalah hari Jum‘at. Di dalamnya diciptakan Adam, di dalamnya ia dicabut (nyawa), di dalamnya tiupan (sangkakala), dan di dalamnya keterkejutan. Maka, perbanyaklah shalawat kepadaku di hari itu. (Karena), sesungguhnya shalawat kamu diperlihatkan kepadaku. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan sedang engkau telah usang (tulang belulangmu telah hancur)?” Rasulullah bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan atas bumi, jasad para Nabi.”</em> <strong>(HR Abu Daud dan Ibnu Majah)</strong><br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Anjuran lain adalah membaca surat al-Kahfi. Di sebuah hadits shahih, Rasulullah bersabda :</span></p>
<p align="right">
<span style="font-family:'Traditional Arabic';"><span style="line-height:150%;font-size:240%;">مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُـعَةِ أَضَاءَ لَـهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْـعَتَيْنِ</span><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;"><em>Siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum‘at, niscaya Allah menyinarinya dengan cahaya selama antara dua Jum‘at. </em><strong>(HR Daruquthni dan Baihaqi)</strong><br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Penulis pernah membuat sebuah analisa sederhana mengapa banyak jamaah mengantuk bahkan tertidur ketika khutbah. Jadilah sebuah hipotesis ala kadarnya. Hipotesis ini mengatakan bahwa karena hal itu dilarang, maka banyak orang melakukan. Buktinya, pada hari-hari biasa, ketika jam istrirahat, mengapa jarang sekali yang memanfaatkannya untuk tidur? Karena tidak ada yang melarangnya. Bisa jadi hipotesis ini benar adanya, namun bisa juga tidak. Toh penulis juga belum melakukan penelitian secara komprehensif. Memang, merupakan tabiat manusia, yang paling disenangi adalah sesuatu yang terlarang bagi dirinya.<br />
</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Sahabat Ali bin Abi Thalib kw. sampai mengatakan, “Andaikata manusia dilarang untuk membuat bubur dari kotoran binatang, pasti dia akan melakukannya.” Penulis sendiri pun pernah mengalami kantuk ketika mendengar khutbah. Memang, dibutuhkan perjuangan yang berat untuk mengalahkannya. Berbeda ketika menjadi khatib, tidak mungkin mengantuk, karena harus berkhutbah <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"><strong>Daftar Pustaka :</strong></span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, <em>“Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”</em> </span></li>
<li>
<div><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Adi W. Gunawan, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006 </span></div>
</li>
<li>
<div><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Ary Ginanjar Agustian, “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual – ESQ (Emotional Spiritual Quotient)”, Penerbit Arga, Cetakan Kedua puluh sembilan : September 2006 </span></div>
</li>
<li><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Az-Zarnuji, asy-Syaikh, <em>“Ta‘lîm al-Muta‘allim” </em></span></span></li>
<li><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>âfizh, <em>“Bulûghul Marâm – Min Adillatil A<span style="text-decoration:underline;">h</span>kâm”</em> </span></li>
<li><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Muhammad bin Abi Bakar, asy-Syaikh, <em>“Al-Mawâ‘izh al-‘Ushfûriyyah”</em> </span></li>
<li>
<div><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;">Zainuddin Ahmad bin Abdul Lathif Az-Zabîdî, asy-Syaikh, “Ringkasan Shahîh Al-Bukhârî <em>(Al-Tajrîd as-Sharî<span style="text-decoration:underline;">h</span> li A<span style="text-decoration:underline;">h</span>âdîts al-Jâmi‘ as-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span>)”</em>, Penerbit Mizan, Cetakan III : Dzulhijjah 1419/April 1999</span></div>
</li>
</ul>
<p><span style="font-size:130%;"><span style="font-family:times new roman;">Tulisan ini berlanjut ke : </span><a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/bagaimana-menjadi-khatib-efektif-1-of-2.html"><span style="font-family:times new roman;">&#8220;Bagaimana Menjadi Khatib Efektif? (1 of 2)&#8221;</span></a><span style="font-family:times new roman;"><br />
<em>#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin&#8230;#</em></span></span></div>
<p><span class="post-author vcard"> Diposkan oleh <span class="fn">faisol di sini </span></span></p>
<p><span class="post-author vcard"><span class="fn"><br />
</span></span><a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html"></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohisku.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohisku.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohisku.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohisku.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohisku.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohisku.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohisku.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohisku.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohisku.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohisku.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=17&subd=rohisku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b6a75c0eaaa268c2d026a5f3758db8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rohisku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/15/</link>
		<comments>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/15/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 08:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rohisku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohisku.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[MENCARI REZEKI DENGAN MATA HATI

Sewaktu naik Lion ke Jakarta saya baca inflight Magazine yang cukup menarik isinya tentang “mencari rezeki dengan mata hati”. 
Lebih kurang intisari isinya adalah menceritakan cara mendapatkan rezeki dari seniman jalanan alias pengamen.
Kita tentu pernah makan malam direstoran pinggiran atau café. Disaat kita baru menyuap nasi dan ayam bakar ke mulut kita, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=15&subd=rohisku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="title"><a title="Tautan Tetap ke MENCARI REZEKI DENGAN MATA HATI" rel="bookmark" href="http://iskandarmt.wordpress.com/2008/03/26/mencari-rezeki-dengan-mata-hati/">MENCARI REZEKI DENGAN MATA HATI</a></h2>
<div class="snap_preview">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Sewaktu naik Lion ke Jakarta saya baca inflight Magazine yang cukup menarik isinya tentang “mencari rezeki dengan mata hati”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Lebih kurang intisari isinya adalah menceritakan cara mendapatkan rezeki dari seniman jalanan alias pengamen.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span>Kita tentu pernah makan malam direstoran pinggiran atau café. Disaat kita baru menyuap nasi dan ayam bakar ke mulut kita, datanglah satu atau dua orang pengamen yang kadang tanpa babibu langsung menyanyikan satu buah lagu yang terkadang suaranya terasa fals. </span><span>Kemudian sang pengamen menyorongkan kaleng atau plastik kantongan untuk meminta sumbangan dari kita. Terkadang tanpa memperdulikan kita sedang menyuap nasi mereka mengeluarkan bunyi bunyian dari uang recehan yang diketuk ketukkan agar kita segera memberikan sumbangan. Dengan tersenyum sedikit dongkol (?), kita merogoh kocek untuk mengambil dan menyerahkan uang seribu rupiah kepada pengamen tersebut agar kita tidak diganggunya lagi. Ditempat lain sang pengamen melakukan hal serupa yang terkadang diacuhin konsumennya. Malam itu mungkin mereka bisa mengantongi uang kira kira dua puluh ribuan. Inilah tipe <span style="text-transform:uppercase;">pengamen</span> PERTAMA.</span></span><span><span style="font-family:Arial;"> </span></span><span style="font-family:Arial;"><span>Di cafe lain, kami pernah diajak makan malam bersama. Saat itu kami melihat beberapa pengamen yang ada tidak mendatangi meja meja pengunjung, tapi mereka dengan pakaian yang rapi berdiri disatu sudut ruangan, menyanyikan lagu yang cocok dengan suasana ruangan sambil terkadang mempersilahkan pengunjung request lagu yang diminati. </span><span>Mereka tidak menyodorkan kantongan plastik ke pengunjung, tapi meletakkan kotak disudut pintu keluar ruangan. </span></span><span><span style="font-family:Arial;">Kami melihat para pengunjung yang pulang sambil tersenyum memasukkan uang kertas rata rata dengan nominal lima &#8211; sepuluh ribuan<span> </span>ke kotak sudut tersebut. Dapat dipastikan malam itu <span style="text-transform:uppercase;">pengamen</span> KEDUA ini<span> </span>bisa mengantongi<span> </span>uang setidak tidaknya sepuluh kali lebih banyak dibanding pengamen pertama.</span></span><span><span style="font-family:Arial;"> </span></span><span><span style="font-family:Arial;">Di waktu dan di restoran lain, ada sekelompok pemuda yang berpakaian etnis dan sopan menyanyikan lagu etnis daerahnya dengan paduan suara yang demikian sejuk dan memukau. Mereka tidak menyodorkan kantongan plastik atau meletakkan kotak uang, tetapi mereka meletakkan CD lagu lagu<span> </span>rekaman suara mereka dalam kotak yang disusun rapi dibeberapa sudut ruangan. </span></span><span><span style="font-family:Arial;">Mereka menjelaskan bahwa CD lagu lagu mereka boleh diambil gratis jika berminat dan mereka menyampaikan bahwa misi mereka atas nama daerah mereka adalah mencari bantuan atau sumbangan untuk membantu anak anak di daerah mereka yang putus sekolah. Apa yang terjadi, uang yang masuk rata rata rupiah berwarna biru dan merah dan P<span style="text-transform:uppercase;">engamen</span> KETIGA ini<span> </span>bisa mengantongi<span> </span>uang minimal cukup banyak dan pasti melebihi dibanding pengamen pertama dan kedua.</span></span><span><span style="font-family:Arial;"><span> </span></span></span><span><span style="font-family:Arial;">Hal yang serupa pernah juga kami alami ketika kami dinas di Jepang dulu.</span></span><span><span style="font-family:Arial;">Kami pernah jalan jalan ke daerah penjualan elektronika Akihabara.<span> </span>Saat itu kami melihat ada sekelompok pemuda dari Amerika Latin yang mengamen disudut jalan. Mereka membawakan lagu lagu latin dengan apiknya dan mereka meletakkan CD lagu lagu latin rekaman suara mereka dalam kotak juga.<span> </span>Dan dipasang poster dengan kalimat silakan ambil CD ini dan anda boleh menyumbangkan uang anda untuk menyelamatkan hutan kami. Kenyataannya kami melihat cukup banyak yen yang masuk kekotak tersebut. <span> </span></span></span><span><span style="font-family:Arial;"> </span></span><span><span style="font-family:Arial;">Inti dari tulisan diatas adalah jika anda mencari rezeki atau memberikan pelayanan dengan melibatkan mata hati yang disertai niat yang tulus, maka kemungkinan besar anda akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari perkiraan pada umumnya. Carilah rezeki dengan menggunakan mata hati dan bukannya dengan mata duitan.<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-family:Arial;">Wassalam. </span></span></p>
<p><span><span style="font-family:Arial;">Iskandar MT</span></span></div>
<p class="authormeta">~ oleh iskandar mt di/pada Maret 26, 2008.</p>
<p class="authormeta">
<p><a href="http://iskandarmt.wordpress.com/2008/05/05/pendekatan-secara-islami/"><strong>Artikel ini di peroleh dari sini</strong></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohisku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohisku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohisku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohisku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohisku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohisku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohisku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohisku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohisku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohisku.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=15&subd=rohisku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b6a75c0eaaa268c2d026a5f3758db8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rohisku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pendekatan-secara-islam</title>
		<link>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/pendekatan-secara-islami/</link>
		<comments>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/pendekatan-secara-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 08:32:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rohisku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohisku.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[ Sinopsis 
Kita mengetahui bahwa berhasilnya program sebuah perusahaan akan banyak ditentukan oleh dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh jajaran yang ada di tubuh perusahaan di samping dilakukannya audit secara komprehensif terhadap kerangka manajemen dari perusahaan tersebut. Dukungan dan partisipasi aktif dari orang lain ( istilah yang lebih menantang daripada digunakan istilah karyawan perusahaan ) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=9&subd=rohisku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><strong><a href="http://iskandarmt.wordpress.com/2008/05/05/pendekatan-secara-islami/"> </a>Sinopsis </strong></p>
<p style="text-align:left;">Kita mengetahui bahwa berhasilnya program sebuah perusahaan akan banyak ditentukan oleh dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh jajaran yang ada di tubuh perusahaan di samping dilakukannya audit secara komprehensif terhadap kerangka manajemen dari perusahaan tersebut. Dukungan dan partisipasi aktif dari orang lain ( istilah yang lebih menantang daripada digunakan istilah karyawan perusahaan ) baru akan didapat apabila strategi perusahaan “dapat dimengerti dan dapat diterima penuh” oleh mereka. Seorang tokoh orientalis dari zaman mutakhir ini Michael H. Hart telah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia satu – satunya yang paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia dan paling berhasil dalam mempengaruhi dan mengajak orang dalam menjalankan syiar Islam. Mempelajari dan mengikuti langkah – langkah seperti yang dilakukan Rasulullah akan merupakan ibadah selama cermin diri, niat dan upaya yang dilakukan semata – mata Lillahi Ta’ala.     Perilaku Nabi Muhammad SAW dalam Mengajak Orang  Kita sebagai pribadi tentunya banyak menaruh perhatian terhadap apa yang kita inginkan dan perhatian atas keinginan ini berjalan seumur hidup kita. Tetapi ingatlah bahwa orang lain pun sama seperti kita, mereka pun sangat memperhatikan apa yang mereka inginkan. Oleh karena itu jalan yang terbaik untuk mempengaruhi orang lain adalah dengan memperhatikan apa yang mereka senangi dan menunjukkan kepadanya cara mendapatkan apa yang mereka inginkan. Renungkanlah ini!.  Seandainya kita hendak memerintah seseorang agar mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita atau misalnya sebagai seorang guru kita tidak ingin murid – murid kita main – main di kelas, atau kita ingin menyuruh orang lain meninggalkan adat leluhurnya agar tidak dicampur adukkan dengan ajaran agama. Janganlah kita berceramah di depan mereka dan mengatakan bahwa apa yang mereka perbuat itu tidak baik apalagi sampai mengecamnya. Ini adalah sesuatu yang sangat sulit berhasil dan anda hanya akan membuang – buang tenaga saja. Juga jika anda mengaku sebagai seorang pendidik, tetapi hanya tau tentang nilai – nilai baik dan buruk saja, namun tak perduli akan jiwa si anak didik; maka anda akan sulit untuk berhasil dalam melaksanakan pendidikan tersebut.  ·        Baiklah, sebagai ilustrasi mari kita ikuti halusnya cara Nabi Muhammad menyuruh para sahabatnya untuk bergerak ke garis depan, berjihad berjuang untuk membela agama Allah, Islam. Beliau selalu memulai perkataannya dengan : “Wahai kaum Mukminin, saya telah mencium bau syurga, maka barangsiapa ingin masuk surga (mati syahid), majulah ke medan perang…..dst“.  ·        Tatkala datang perutusan Najran dari Yaman untuk menyatakan ke Islaman mereka dan meminta kepada Nabi Muhammad SAW agar dikirim bersama mereka seorang guru untuk mengajarkan Al-Qur’an dan ash-Sunnah serta seluk beluk Islam, maka Nabi Muhammad SAW tidak langsung memberi perintah kepada salah seorang sahabat, melainkan berkatalah beliau dengan nyaring: “Baiklah akan saya kirim bersama tuan – tuan seseorang yang terpercaya, benar – benar terpercaya!, Yang benar – benar terpecaya!”. Rupanya perkataan Nabi Muhammad SAW seperti di atas merupakan pancingan terhadap para sahabat, sehingga hasilnya para sahabat masing – masing sangat bersemangat untuk diutus oleh Nabi Muhammad SAW dan masing – masing berharap agar pilihan itu jatuh pada dirinya, hingga beruntung mendapat pengakuan dan kesaksian yang tak dapat diragukan lagi kebenarannya. Umar bin Khattab sendiri menceritakan sebagai berikut: “Sesungguhnya aku tak pernah berangan – angan untuk menjadi Amir, tetapi ketika itu aku tertarik dengan ucapan Rasulullah dan mengharapkan agar yang dimaksud oleh beliau itu adalah aku sendiri. Kami segera berangkat untuk shalat dhuhur. Dan tatkala Rasulullah selesai mengimani, beliau memberi salam, lalu menoleh ke sebelah kanan dan kiri. Aku mengulurkan badan agar kelihatan oleh beliau, tetapi beliau masih saja melayangkan pandangannya mencari – cari hingga akhirnya tampaklah olehnya Abu Ubaidah, maka dipanggilnya dia seraya bersabda:’Berangkatlah anda bersama mereka, dan selesaikanlah seandainya terjadi perselisihan diantara mereka dengan cara yang benar….!’. Maka dengan senang dan bangga atas perintah Nabi itu, Abu Ubaidah pun pergi bersama dengan orang – orang Najran itu”.  ·        Dalam peristiwa persiapan perang Tabuk, Nabi Muhammad SAW memerintah Ali bin Abi Thalib agar tinggal bersama keluarganya. Dengan adanya kejadian itu orang – orang munafik itu. Maka Ali segera menemui Nabi dan mengadukan kepada beliau tentang ucapan yang telah didengarnya itu sambil mengusulkan untuk turut berperang. Menghadapi masalah yang sebenarnya agak rumit ini, maka Nabi Muhammad SAW cukup menjawabnya dengan sebuah pertanyaan: “Apakah engkau tidak rela kalau engkau bagiku bagaikan Harun bagi Musa?”. Nah, dengan pertanyaan itu rasa rendah dan rasa dihina oleh orang – orang munafik dalam diri Ali hilang seketika.     Hikmah yang Dapat Dipetik dari Perilaku Rasulullah  Dari kejadian di atas marilah kita tarik beberapa buah hikmah yaitu :     1. Untuk mengajak seseorang agar melakukan sesuatu yang baik dapat dilakukan dengan cara membangkitkan suatu keinginan yang kuat pada orang itu. Dasarnya tanyalah dahulu kepada diri sendiri:  ·        “Bagaimana aku dapat mengemas ajakan baik ini sedemikian rupa agar mereka mau melakukan atas kemauan sendiri dan tidak merasa terpaksa / dipaksa?”.  ·        “Bagaimanakah kira-kira jika ajakan itu untuk diri kita, apakah tidak keberatan dan bagaimana agar buat kita sendiri hal itu menjadi pantas?”.  2. Jika di dunia ini ada rahasia keberhasilan, maka rahasia itu terletak pada kecakapan untuk melihat melalui kecamata orang lain.     Penutup  Imam at-Thirmidzi meriwayatkan bahwa suatu ketika Anas r.a bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “Ya Rasulullah, apakah kami tidak boleh menyuruh orang berbuat baik sebelum kami mengerjakan semua kebaikan?, Dan tidak bolehkah kami melarang orang berbuat jahat, sebelum kami menjauhi sebelumnya?”. Maka Nabi Muhammad SAW menjawab: “Bahkan suruhlah orang berbuat baik, walaupun Anda belum meninggalkan semuanya!”.  ~ oleh iskandar mt di/pada Mei 5, 2008<a href="http://iskandarmt.wordpress.com/2008/05/05/pendekatan-secara-islami/"> <strong></strong></a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://iskandarmt.wordpress.com/2008/05/05/pendekatan-secara-islami/"><strong>Artikel ini di peroleh dari sini</strong></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohisku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohisku.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohisku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohisku.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohisku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohisku.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohisku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohisku.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohisku.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohisku.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=9&subd=rohisku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/24/pendekatan-secara-islami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b6a75c0eaaa268c2d026a5f3758db8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rohisku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/22/5/</link>
		<comments>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/22/5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 11:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rohisku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohisku.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[LAKUKAN SESUATU PADA PILIHANMU ITU…
Sebentar lagi ujian ! Ya, ujian nasional Bro !!! Dan kali ini kita akan menghadapi soal pilihan ganda alias multiple choice. Cuma peraturannya saja yang agak sedikit berbeda. Panita ujian bilang, kita harus mencontreng pilihan kita. Ingat, mencontreng ! Bukan menyilang, mengalikan atau menghitamkan bulatan !
 
Panitia ujian juga berpesan agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=5&subd=rohisku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3 class="post-title entry-title"><a href="http://next-revolt.blogspot.com/2009/02/lakukan-sesuatu-pada-pilihanmu-itu.html">LAKUKAN SESUATU PADA PILIHANMU ITU…</a></h3>
<p>Sebentar lagi ujian ! Ya, ujian nasional Bro !!! Dan kali ini kita akan menghadapi soal pilihan ganda alias <em>multiple choice</em>. Cuma peraturannya saja yang agak sedikit berbeda. Panita ujian bilang, kita harus mencontreng pilihan kita. Ingat, mencontreng ! Bukan menyilang, mengalikan atau menghitamkan bulatan !</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Panitia ujian juga berpesan agar kita memilih yang terbaik, jangan asal mencontreng ! Karena hasil ujian ini akan mempengaruhi masa depan kita. Ya, secara komulatif hasilnya akan menentukan masa depan seluruh peserta. Jika sebelum ini kita sudah diajari bahwa mencontek adalah sebagian dari korupsi. Bolehjadi kita menjadi pendukung seorang koruptor, meskipun kita tak pernah mencontek dalam ujian kali ini. Lho???</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Iya, karena jika pemimpin kita adalah seorang koruptor atau setengah koruptor maka status orang-orang yang akan mendukungnya sangat jelas. Bayangkan, ada sebagian orang yang sebelum masa ujian tiba, mereka malah asyik ikutan pawai kampanye. Padahal tugas kita kan belajar dan banyak membaca untuk menghadapi ujian. Bukan demonstrasi atau teriak-teriak dijalanan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Oiya, saya hampir lupa mengingatkan kalian. Kertas ujian nanti jangan lupa dikasih nama dan tanggal ujian. Karena meskipun panitia tidak pernah mengumumkan hal ini, kita semua orang-orang yang terpelajar untuk tidak membiarkan kertas ujian kosong, sementara pena ada ditangan kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apakah kalian akan diam dan tidak menuliskan sesuatu?? Oh, tidak! Ayunkan lah pena yang ada ditangan kalian. Bukan kah kalian punya pendapat pribadi?! Mengapa hanya mencontreng? Anggap saja ini soal uraian (essay)! Tulislah! Tuliskan opini kalian. Mengapa kalian akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berpendapat dan bersuara??!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ayolah… Jangan diam saja! Dulu ketika ujian sekolah saya pernah menulis pesan dan curhat di lembar jawaban. Saya pernah mengisi jawaban essay dengan kalimat; “Bu, susah banget nih soal!”, “Perasaan ini belum diajarin deh…”. Bagaimana dengan kalian? Maksud saya, apakah kalian pernah menulis sesuatu dalam lembar jawaban ujian sewaktu sekolah dulu? Pernahkan kalian menuliskan unek-unek dan curhat di saat ujian?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ayolah, lakukan! Jangan diam saja! Kali ini ujiannya berskala nasional. Kalian punya kreativitas gak?! Katanya sekarang zaman kebebasan berpendapat lho. Apalagi demokrasi menjamin kebebasan berpendapat. Kenapa kalian gak mau berpendapat dengan bebas? Kenapa kalian rela, suara kalian direduksi dan di korupsi oleh para caleg yang fotonya nanti ada di ‘lembar jawaban’ ujian nasional kali ini…</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kenapa?? Ayo jawab!!!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tiba-tiba saya marah. Karena kalian diam, saya tidak mau melanjutkan tulisan ini. Tapi sebagai penghormatan, saya mau kasih kata penutup dan satu pertanyaan bonus!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong>Apa yang akan dilakukan orang kreatif jika diberi pena dan kertas suara?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em>“Suruh siapa ngasih pena dan kertas suara ke orang-orang yang kreatif!”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FR">#Dirumah, Sabtu Malam ku sendiri…</span></p>
<div style="text-align:justify;">
<p>Revolusi Hari Ini***</p></div>
<p>http://www.next-revolt.blogspot.com/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohisku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohisku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohisku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohisku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohisku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohisku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohisku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohisku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohisku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohisku.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=5&subd=rohisku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohisku.wordpress.com/2009/02/22/5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b6a75c0eaaa268c2d026a5f3758db8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rohisku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demokrasi Penghalang Kebangkitan</title>
		<link>http://rohisku.wordpress.com/2008/05/10/demokrasi-penghalang-kebangkitan/</link>
		<comments>http://rohisku.wordpress.com/2008/05/10/demokrasi-penghalang-kebangkitan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 12:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rohisku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohisku.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Bergulirnya era reformasi di negeri ini, mencuatkan harapan masyarakat untuk menuju kepada kebangkitan. Bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan. Bangkit dari kebodohan dan kesengsaraan.
Umat Islam pun mendambakan kehidupan yang lebih baik. Terutama dalam menjalankan syariat Islam yang selama Orde Lama dan Orde Baru terbelenggu.
Benih-benih kebangkitan itupun tampaknya mulai merekah. Ditandai dengan makin tingginya kesadaran umat untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=4&subd=rohisku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bergulirnya era reformasi di negeri ini, mencuatkan harapan masyarakat untuk menuju kepada kebangkitan. Bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan. Bangkit dari kebodohan dan kesengsaraan.</p>
<p>Umat Islam pun mendambakan kehidupan yang lebih baik. Terutama dalam menjalankan syariat Islam yang selama Orde Lama dan Orde Baru terbelenggu.</p>
<p>Benih-benih kebangkitan itupun tampaknya mulai merekah. Ditandai dengan makin tingginya kesadaran umat untuk kembali ke jalan lurus yang mampu menghantarkan kepada kebangkitan hakiki, yakni ideologi Islam.</p>
<p>Masyarakat mulai melirik Islam sebagai solusi atas berbagai himpitan masalah yang terjadi akhir-akhir ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Mereka mulai sadar, betapa kapitalisme telah menindas sisi-sisi kemanusiaan mereka hingga kelaparan merajalela, gizi buruk mengancam generasi, minyak tanah menghilang, dst.</p>
<p>Namun, kebangkitan yang didambakan tak jua menyapa karena sistem sekular-kapitalisme masih setia bercokol di negeri ini. Kendati sudah jelas impotensinya dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa, sistem ala Barat yang notabene buatan manusia itu masih juga dipertahankan. Bahkan anehnya, digadang-gadang menjadi resep jitu untuk memulihkan kondisi bangsa menuju lebih baik.</p>
<p>Demokrasi misalnya, masih dipuja-puja sebagai satu-satunya model pembangunan yang mampu membawa masyarakat pada kemajuan. Padahal kenyataannya, demokrasi justru penghambat kebangkitan. Sebaliknya, demokrasi membawa masyarakat pada kemunduran, kembali ke zaman jahiliyah.</p>
<p>Gara-gara demokrasi yang melegalkan kebebasan beragama misalnya, aliran sesat bertumbuhan bak jamur di musim hujan. Akidah umat yang lurus, poran-poranda oleh berbagai paham nyeleneh. Akibatnya, pola pikir umat merosot ke dalam jurang irasionalitas.</p>
<p>Gara-gara demokrasi pula yang menawarkan pemilihan pimpinan langsung, mulai ketua RW, kepala desa, bupati, walikota, gubernur hingga presiden, konflik horisontal antarwarga meluas. Umat yang satu terancam terpecah-belah karena beda partai, beda kandidat, dan bahkan beda isi amplop.</p>
<p>Gara-gara demokrasi yang mensahkan kebebasan bertingkah-laku, pornografi dan pornoaksi merebak hingga menjungkirbalikkan harkat dan martabat manusia lebih rendah dari binatang.</p>
<p>Jadi, masihkah berharap pada demokrasi sebagai resep jitu pembawa kebangkitan umat? Kalau iya, sampai kapanpun kita hanya mengejar fatamorgana. Karena itu, sudah saatnya melengserkan demokrasi dari percaturan politik, bahkan peradaban dunia. Karena demokrasi sesungguhnya tak layak disebut sebagai sebuah peradaban, kecuali peradaban jahiliyah. Mari kembali kepada Islam. <strong>[asri]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rohisku.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rohisku.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohisku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohisku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohisku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohisku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohisku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohisku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohisku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohisku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohisku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohisku.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=4&subd=rohisku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohisku.wordpress.com/2008/05/10/demokrasi-penghalang-kebangkitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b6a75c0eaaa268c2d026a5f3758db8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rohisku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Welcome</title>
		<link>http://rohisku.wordpress.com/2008/05/10/hello-world/</link>
		<comments>http://rohisku.wordpress.com/2008/05/10/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 09:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rohisku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Selamat Datang di dunia Dakwah Islam, anda diwajibkan berdakwah dan menyampaikan apapun and everything  artikel-artikel yg ada dalam situs ini&#8230; kalo engga barhati-hatilah pada hari sabtu, karena setelah hari sabtu adalah hari minggu
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=1&subd=rohisku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Selamat Datang di dunia Dakwah Islam, anda diwajibkan berdakwah dan menyampaikan apapun and everything  artikel-artikel yg ada dalam situs ini&#8230; kalo engga barhati-hatilah pada hari sabtu, karena setelah hari sabtu adalah hari minggu</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rohisku.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rohisku.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohisku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohisku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohisku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohisku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohisku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohisku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohisku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohisku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohisku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohisku.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohisku.wordpress.com&blog=3692395&post=1&subd=rohisku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohisku.wordpress.com/2008/05/10/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b6a75c0eaaa268c2d026a5f3758db8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rohisku</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>